Galeri

cerpenku

TENTANG HATIKU

Ku ukirkan rasa yang bergejolak dalam jiwa lewat selembar kertas putih, seputih dan setulus hatiku yang mencintainya. Tak mampu kumemendam rasa yang semakin tak menentu. Tak dapat kucegah debaran jantung yang berirama syahdu, lembut darahku mengalir menghangatkan relung-relung hatiku yang terdalam kala memandang senyum yang merekah bak mawar merah. Dosa ini…. tak ingin aku semakin terlarut namun tak mampu aku berkutik kala telinga ini mendengar namanya dan debaran jantung ini yang semakin bergejolak tak mampu menahannya. Ya Robb.. rasa apa ini? Sungguh aneh. Tak pernah aku merasakan hal ini yang semakin mendalam. Apakah aku jatuh cinta?

Perlahan ku tepiskan perasaan itu. Otakku kupaksakan untuk memikirkan hal lain, memikirkan hal-hal yang dapat mengalihkan pikiranku darinya. Dia yang seminggu terakhir telah mengusik hati dan pikiranku. Astaghfirullah… berkali-kali bibir ini kutuntun untuk mengucap asmaNYA. Tak selayaknya aku memikirkan hal itu. Seseorang yang belum halal untukku.

*****

Cahaya mentari perlahan-lahan memasuki sudut-sudut kamar kostku yang berukuran 3x3m. Hangatnya mulai terasa saat kusibakkan tirai jendela kamarku. Perlahan ku pejamkan mata menghirup udara pagi yang segar. Masih tenang dari hiruk-pikuk kota Yogyakarta. Jam dinding menunjukkan pukul 06.15 WIB. Sekali lagi kumematut diriku di depan cermin. Jilbab baru berwarna biru kado ulang tahun dari sahabatku kini menghiasi kepalaku. Sungguh cantik. Jilbab lebar pertama yang ku terima dan yang kukenakan. Ya… sekarang aku jilbaber. Sebuah keputusan yang tepat, mengingat jilbab-jilbab yang kupunya hanya menutupi dada. Bismillah….. semoga jilbab ini akan kupertahankan hingga akhir hayatku.

Jam 07.00 WIB ada kajian rutin setiap pagi di masjid kampus sebelum kuliah. Kegiatan rutin yang mulai ku tekuni sebulan terakhir. Alhamdulillah bisa mendapat siraman rohani di pagi hari sebelum beraktivitas.

Drettt… drettt…. dreeetttt…. segera ku melirik Hpku. Sebuah pesan dari Layla, teman sekelasku. Segera ku baca.

“ Assalumu’alaikum…… Ukh, nanti sebelum kajian, bisa ke tempat Ana? Syukron.”

Segera ku balas, “ Wa’alaikumsalam….. insyaALLAH Ukhti, Ana segera ke sana. Afwan”

Bergegas aku memakai kaus kaki putih kesayanganku. Aku masih deg-degan membayangkan reaksi Layla saat melihat penampilanku. Senyumku terkembang membayangkan wajah terkejut Layla. Bismillah…. aku segera menuju kost Layla. Jarak kostku dan Layla tidak terlalu jauh, jalan kaki sekitar 10 menit. Sesampai di depan kost Layla, aku segera melenggang masuk.

“ Assalamu’alaikum…..” Sapaku setelah di depan kamar Layla.

“ Wa’alaikumsalam….” Sahutnya seraya membuka pintu. “ Subhanallah… Aina… Allahu Akbar…” Layla memelukku. Aku tersenyum haru.

“ Alhamdulillah, Ukhti. Antum terlihat cantik.” Layla melepas pelukannya dan kemudian menarikku masuk ke kemarnya.

“ Alhamdulillah, hidayah itu datang juga pada Ana. Syukron, ini jilbab yang Antum berikan tempo hari. Ana senang bisa memakainya pertama kalinya untuk hijrah Ana.”

Layla masih menatapku dengan senyum terkembang lebar. “ Oh iya, Ukhti… ada apa nih ana di minta datang kemari?” Tanyaku.

“Astaghfirullah…. sampai lupa. Ada titipan nih dari mbak Aulia buat Antum.” Layla mengambil bungkusan di samping almarinya.

“Apa ya?” aku menerima bungkusan itu. Karena penasaran, segera ku buka bungkusan itu. Subhanallah….. terdapat tiga lembar jilbab lebar cantik-cantik di sana. Aku segera membaca secarik kertas yang ada di atasnya.

Assalamu’alaikum….Semoga jilbab ini senentiasa menyertai Antum dalam berdakwah

Alhamdulillah, ini kejutan yang tak terduga. Aku ingat kemarin bertemu Mbak Aulia saat sedang memilih-milih jilbab di toko baju muslimah. Saat itu aku mengutarakan keinginanku berhijrah. Terimakasih Ya Allah… terima kasih mbak Aulia. Tiba-tiba Layla menyodorkan sesuatu padaku. Ku intip isi di dalam kotak biru itu. Dua jilbab hijau dan putih ditanganku. Aku menatap Layla penuh haru. Ku peluk ia erat.

“Syukron, ya Ukhti.” Ucapku lirih.

Jam menunjukkan pukul 06.50 WIB. Kami segera bersiap-siap ke masjid kampus. Kebetulan kostan Layla dekat dengan kampus jadi kami tak perlu terburu-buru.

Kajian pagi ini diisi oleh pak Rachman yang sekaligus dosen agama islam di kampusku. Pembahasan kali ini tentang pentingnya wanita menutup aurat. Subhanallah, kajian yang menyenangkan. Selesai kajian aku dan Layla menuju ruang kelas. Lima menit lagi kuliah dimulai. Seperti yang ku duga, berbagai tanggapan dari teman-teman melihat penampilanku kini. Alhamdulillah, kebanyakan tanggapan positif.

*****

Aku masih sibuk membolak-balikkan buku pelajaran. Tiba-tiba bayangannya muncul dalam otakku. Astaghfirullah.. ucapku lirih. Aku tak tahu kanapa akhir-akhir ini otakku selalu menyempatkan diri untuk memikirkannya. Lelaki itu, lelaki yang baru ku lihat sekitar dua minggu lalu, saat pertama kali ku lihat dia ikut dikajian rutin di kampusku. Tadipun sempat aku melihatnya, namun sekilas. Aku tak ingin memastikan karena aku takut otakku akan memikirkannya dan benar saja sekarang aku mmikirkannya. Ahmad Zunuddin Alam. Nama itu menggetarkan hatiku. Aku tahu nama itu kebetulan saat seorang teman menanyakan keberadaannya. Dan baru ku ketahui ternyata dia adalah asisten salah seorang dosen di kampusku. Segera kutepis bayangan sosoknya dan namanya yang terngiang-ngiang. Astaghfirullah…..

*****

Pukul 02.15 WIB. Aku beringsut dari kasurku yang empuk. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi kostku. Ku basuh muka, tangan, kepala dan kakiku. Terasa sejuk menyelinap di qalbu. Kubentangkan sajadah, khusyuk kuberdiri menghadap Tuhan. Selesai Qiyamul Lail, aku larut dalam bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sekelebat bayangan itu muncul di benakku. Astaghfirullah… berkali-kali bibirku mengucap lirih.

*****

Siang itu aku menemui Mbak Aulia di masjid kampus saat selesai shalat zuhur ,”Assalamu’alaikum…” Aku menyalami Mbak Aulia. Dia tampak cantik dialut jilbab biru muda.

“Wa’alaikumsalam…” Senyum Mbak Aulia terkembang.

“Syukron, Mbak jilbabnya. Aina suka.” Kataku sambil menujukkan jilbab berwarna merah muda yang kukenakan, jilbab pemberian Mbak Aulia.

“Alhamdulillah, kalau gitu, Antum tampak cantik, Dik”

Setelah mengobrol sebentar, aku beranjak menuju kelas. Mata kuliah pak Ibnu. Sesampai di sana, aku memilih bangku di barisan nomor dua dari depan, di sampingku Nina. Aku membalas senyumnya. Sesaat kemudian Layla masuk dan duduk di sampingku. Kami mengobrol sejenak sebelum akhirnya datang sesosok yang tertangkap oleh ujung mataku. Jantungku tiba-tiba berdenyut kancang. Aku mengenal sosok itu. Ahmad Zunuddin Alam. Aku melirik sekeliling, bingung. Seperti itu raut wajah teman-teman termasuk aku.

“ Assalamu’alaikum….” Sapa lelaki itu memecah keheningan kelas.

“Wa’alaikumsalam” jawab kami serempak.

“Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin kalian bingung karena bukan pak Ibnu yang mengisi kuliah hari ini. Hari ini dan dua minggu berikutnya, saya yang akan menggantikan Beliau untuk sementara karena saat ini Beliau ada kepentingan di luar kota.” Kelas masih hening mendengar penuturan lelaki itu. Sekilas ku lihat Nina di sampingku melihat lelaki itu begitu lekat. Ada rasa aneh menyerang dadaku. Cemburu kah? Astaghfirullah… tak pantas rasa ini hadir. Nina temanku dan lelaki itu bukan siapa-siapaku.

“Nama saya Ahmad Zunuddin Alam. Saya dipercayakan pak Ibnu Syamsuri untuk menjadi asisten Beliau dan menggantikan Beliau sementara waktu selama Beliau di luar kota. Semoga kalian berkenan menerima kuliah dari saya”

Selama kuliah berlangsung, aku tak berani menatap lelaki itu. Perasaan dalam hati ini sudah bercampur aduk. Aku tak ingin lebih menodai hati ini. Istighfar tak henti-hentinya keluar dari bibirku. Aku akan seperti ini selama dua minggu kedepan. Ya Allah. Kuasai hatiku.. aku tak ingin menambah dosa dengan zina hati ini. Jeritku dalam hati.

Selesai kuliah, aku bergegas keluar menuju masjid. Ku keluarkan Al-Qur’an saku yang selalu ku bawa kemana-mana. Ku rasakan kehadiran Layla di sisiku. Dia melakukan hal yang sama denganku. Kami larut dalam bacaan ayat suci masing-masing.

“Antum kenapa?” tanya Layla setelah kami selesai tadarus, “Antum sakit?”

Aku menggeleng sambil tersenyum, “Tidak apa-apa, sahabatku. Syukron ya. Antum perhatian sekali.” Layla ikut tersenyum.

Layla Jannati. Gadis asal Cirebon. Dari SD sampai SMA, pendidikannya dihabiskannya di pondok pesantren. Gadis yang sungguh bersahaja, lembut dan halus pekertinya. Terkadang aku berpikir apakah dia ini bidadari dunia. Lahir dari keluarga yang berkecukupan namun kesehariannya sangat sederhana, bahkan tak ada yang menyangka kalau ayahnya orang terpandang di kotanya. “Ah, Anti ini suka melebih-lebihkan. Harta itu hanya titipan Allah. Tak sepantasnya Ana menyombongkan diri karena harta. Karena bisa kapan saja Allah mengambil itu semua.” Hal itu yang sering diucapkannya kalau teman-teman menyinggung soal keluarganya.

*****

Aku merasa enggan untuk memasuki kelas. Selesai shalat zuhur aku hanya duduk-duduk di beranda masjid kampus. Hari ini kuliah filsafat, mata kuliah pak Ibnu yang diisi oleh lelaki itu, Ahmad Zunuddin Alam. Aku tak ingin hati ini berdebar-debar saat suaranya mengalun merdu menjelaskan materi kuliah. Rasanya aku ingin mata kuliah itu tak ada atau orang lain saja yang menggantikan pak Ibnu. Kenapa harus dia?

“Aina, ayo masuk kelas.” Tegur Ina membuyarkanku.

Perlahan aku berjalan menyusuri lorong kelas. Ina sudah berjalan lebih dulu. Berat rasanya kakiku melangkah memasuki ruang kelas. Mataku sibuk mencari-cari bangku kosong dibelakang, namun sudah terisi semua oleh teman laki-laki. Sementara deretan baris depan sampai tiga barisan ke belakang sudah terisi teman-teman perempuan. Suatu pamandangan yang langka bangku depan terisi penuh di mata kuliah pak Ibnu Syamsuri. Aku memilih duduk di bangku paling pojok di barisan keempat.

“Ya ampun, pak Ahmad mantep banget deh.” Terdengar suara Nadia yang duduk di depanku.

“Apanya yang mantap?” balas Dian yang duduk di samping Nadia.

Kupingku terasa panas mendengar pembicaraan mereka. kutundukkan kapala menekuni buku chicken soup yang baru kubeli kemarin. Tak lama kemudian, lelaki itu masuk kelas membuat suara bisik-bisik teman-teman parempuan yang duduk di depan. Hatiku sakit. Kenapa? Apa aku marah kalau “dia” disukai para gadis? Allahu Robbi… Apakah cintaku akan ternoda karena zina hati ini? Na’uzubillah…..

Selesai kuliah, aku lagi-lagi bergegas keluar kelas. Karena tergesa-gesa dan dalam keadaan menunduk, aku menabrak seseorang sehingga buku chicken soupku terjatuh.

“Astaghfirullah… Maaf ya.” Suara itu, aku kenal. Aku mencoba melirik dengan ujung mataku. Ya Allah… orang yang bertabrakan denganku ternyata Ahmad Zunuddin Alam. Cepat-cepat kupungut bukuku.

“Afwan, Pak.” Aku bergegas meninggalkannya, sementara aku berjalan menuju masjid, aku sibuk mengatur irama jantungku yang berpacu kencang setelah insiden tadi. Hanya masjid tempat ku menenangkan diri.

*****

“Afwan, Ukhti.” Suara Layla setelah kami tadarus. “Ada apa dengan Antum? Ana perhatikan setiap selesai mata kuliah filsafat, Antum selalu melarikan diri.” Layla menghela nafas sejenak, “Afwan jika Ana terlalu ikut campur.”

“Tidak apa-apa, Ukhti. Ana baik-baik saja.” Dustaku, padahal dalam hatiku sedang bergejolak, “Syukron, telah memperhatikan Ana.” Aku menatap Layla penuh arti. Layla hanya tersenyum. Sesaat kami terdiam. Di masjid hanya tinggal kami berdua dalam hening.

“Apakah Antum mencintai seorang Ikhwan, dan ikhwan itu adalah Ahmad Zunuddin Alam?” Pertanyaan Layla menyentakku. Aku terdiam, terpaku. Tak mampu berucap. Kenapa tiba-tiba Layla menanyakan hal itu? Dari mana dia tahu perasaanku?

“Aina, sayang… Cinta adalah anugerah dari Allah. Bersyukurlah kita dianugerahi rasa cinta. Cinta Antum akan salah jika dipoles nafsu. Ana tahu betapa kerasnya Antum menahan dan membuang rasa itu.” Lagi-lagi aku terdiam mendengar tuturan Layla. Pertanyaanku masih sama, dari mana dia tahu perasaanku?

“Ana lihat akhir-akhir ini Antum selalu gelisah setiap kuliah pak Ahmad. Makanya Ana berkesimpulan demikian.” Lanjut Layla menjawab pertanyaanku.

Aku menatap sahabatku itu dalam, “Iya, Layla. Ana mencintainya. Ana telah berusaha menekan perasaan itu namun semakin kuat Ana membuangnya, semakin sering bayangannya hadir. Ana telah memohon pada Allah agar hati Ana terjaga, tapi kuat sekali bayangannya datang. Ana sendiri tak tahu kapan rasa itu mulai hadir.” Jujurku.

Layla tersenyum, “Perbanyak berdoa dan selalu istiqomah, Ukhti. Allah menyertaimu.” Hanya itu yang terucap dari bibir Layla.

*****

Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.

( Syair Jalaluddin Rumi )

Semilir angin malam menerpa wajahku. Tiada daya dan upayaku mengusir rasa dihatiku. Kurasakan tubuhku masih bergetar saat nama itu terucap. Ya Allah…. Kuatkan imanku.

Akhirnya setelah seminggu terakhir Ahmad Zunuddin Alam menggantikan pak Ibnu Syamsuri, aku telah mulai bisa menata hatiku dan menekan perasaan itu, walau suara itu masih membuat jantungku berdebar.

*****

“Nin, kamu udah dengar kabar tebaru tentang pak Ahmad belum?” suara Ina agak keras sehingga tertangkap telingaku. Entah apa lagi yang teman-teman bicarakan tentang pak Ahmad. Aku banyak mengetahui informasi tentang “dia” dari pembicaraan teman-teman yang tak sengaja tertangkap telingaku.

“Kabar apa, Na?” Tanya Nindi semangat. Tak heran sejak “dia” yang menggantikan pak Ibnu, temen-teman perempuan selalu membicarakannya. Dia bak selebriti yang up to date informasinya. Bahkan hal sekecil apapun tentang “dia” diketahui teman-teman.

“Dengar-dengar pak Ahmad mau nikah.”

Deg. Degup jantungku seperti terhenti. Rasa aneh menyerang dadaku. Sakitnya terasa seperti diiris seribu sembilu yang tak henti-henti datang menghujam. Ku rasakan mataku mulai memanas. Setetes air bening menguncur dari sudut mataku. Buru-buru kuusap. Astaghfirullah, Aina ada apa denganmu? Jantungku berdenyut perlahan. Tak lagi ku mendengar suara orang-orang disekelilingku. “Semoga Beliau bahagia dengan wanita beruntung itu dan keluarganya menjadi keluarga sakinah.” Doaku dalam hati.

Layla mendekatiku, “Ada apa, Ukhti?”

Aku menggeleng dengan senyum yang dipaksakan.

“Antum sudah mendengar kabar itu?”

Aku mengangguk ragu.

“Ikhlaskan saja, Ukhti. Beliau bukan milik kita. Jangan bersedih. Doakan yang terbaik untuk kebahagiaannya dan pendampingnya.” Layla memelukku.

Aku mengangguk pelan berusaha mengukir senyum, menahan tangis walau hatiku menjerit.

*****

Gontai kulangkahkan kakiku menuju kostanku. Aku ingin menumpahkan air mata di atas kasurku. Istighfar tak lepas dari bibirku. Aku ingin mengikhlaskan semuanya. Dia bukan milikku. Perlahan kubuka pintu kamarku. Ku lihat sebuah map rapi bertengger diatas meja belajarku.

Dreetttt…Dreeettt… Dreeetttttt…. HPku bergetar. Sebuan pesan dari Layla aku tersenyun. Dia terlalu mengkhawatirkanku. Ku baca pesannya,

“Assalamu’alaikum… Ukhti, mungkin Ukhti sudah membaca isi map yang ada di atas meja. Tadi Ana yang meletakkannya di sana waktu Ana masuk kamar Ukhti.”

Aku ingat tadi Layla meminjam kunci kamar kostku. Katanya ingin mengambil data penting di komputerku yang sempat dia simpan.

“Afwan ya, Ukh sebelumnya, Ana tak penah menceritakannya pada Ukhti karena Ana ingin memberi kejutan pada Ukhti. Selama ini “dia” ternyata mencintai Ukhti. Beberapa waktu yang lalu “dia” mengutarakan hal itu pada Ana. Karena mendapat lampu hijau, Ana sarankan “dia” untuk maju. Semoga Antum berbahagia dengan “dia”.”

Aku tak mengerti maksud pesan Layla. Map itu berada ditanganku. . Siapa“dia” yang Layla maksud? Kepalaku penuh dengan tanda tanya.

“Ana turut berbahagia untuk Ukhti. Semoga kalian selalu dalam lindunganNYA.”

Rasa penasaranku semakin menjadi. Perlahan kubuka map tersebut. Tenyata proposal ta’aruf. Air mataku tak dapat kutahan. Mengalir begitu saja setelah kubaca siapa ikhwan itu. AsmaNYA tak henti terucap. Ikhwan itu, Ahmad Zunuddin Alam. Samar-samar kudengar alunan lagu Adcoustic, duhai pendampingku mengiring senyum dan air mata kebahagiaanku.

Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku

Buat aku makin cinta

Tetapkan selalu janji awal kita bersatu

Bahagia sampai ke surga

 

Akhi… Aku mencintaimu karena aku mencintaiNYA…….

SELESAI

Created by : SALPIANA

Yogyakarta, 17 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s